Pendidikan Kesehatan Bagi Ibu dalam Penanganan Kejang Demam pada Anak
+ Free ShippingPendidikan Kesehatan Bagi Ibu dalam Penanganan Kejang Demam pada Anak
Penulis;
Ns. Erni Musmiler, M.Kep
Ns. Firda Damba Wahyuni, M.Kep
Jumlah halaman; 96
Ukuran Buku: A5 (14,8×21)
Versi Cetak: Tersedia
Versi E-book: Tersdia
Berat; 0 Kg
Harga; Rp; 86,000
Anak usia 1–5 tahun merupakan periode penting dalam proses tumbuh kembang yang sangat pesat. Pada masa ini, perkembangan otak dan sistem saraf anak masih dalam tahap pematangan, sehingga rentan terhadap gangguan, termasuk kejang demam. Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI, 2023), kejang demam paling sering terjadi pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun, dengan puncak insidensi pada usia 12 hingga 18 bulan. Pada rentang usia ini, anak lebih sering mengalami infeksi, seperti infeksi saluran pernapasan atas, infeksi telinga, atau infeksi virus lain yang dapat menyebabkan demam tinggi. Sistem regulasi suhu tubuh anak yang belum sempurna membuat mereka lebih sensitif terhadap perubahan suhu yang drastis, sehingga risiko kejang meningkat (Widiyanto et al., 2023).
Kejang demam adalah kejang yang terjadi pada anak mengalami demam tanpa infeksi system saraf pusat yang terjadi pada suhu lebih dari 38. Jika tidak ditangani dengan benar maka berisiko kematian (Pelealu et al., 2019). Kejang demam sederhana berdurasi tidak lebih dari 15 menit, bersifat umum, akan berhenti sendiri, dan tidak berulang dalam waktu 24 jam. Kejang demam merupakan kondisi kegawatdaruratan yang memerlukan penanganan pertama (Maghfirah & Namira, 2022). Anak yang terkena kejang demam akan memiliki tanda-tanda seperti kaku, matanya memutar, terjadi gangguan pernafasan, dan sianosis disertai tidak responsiv untuk beberapa saat, Kejang demam terjadi lebih dari 15 menit menyebabkan kelumpuhan otak, keterlambatan perkembangan termasuk keterlambatan motorik, keterlambatan Bahasa, dan keterlambatan kognitif. (Paizer et al., 2023)




Reviews
There are no reviews yet.