CERITA RAKYAT PASAMAN BARAT
+ Free ShippingCERITA RAKYAT PASAMAN BARAT
Penulis:
Asmutia Dabeta
Denni Meilizon
Desma Enim Tanjung
Fakhrida Reveliyanti
Nosrisna
Sriyanti
Yani Sestria
Jumlah halaman: 114
Ukuran Buku: A5 (14,8×21)
Versi Cetak: Tersedia
Versi E-Book: tersedia
Berat; 0 Kg
Harga; 65.000
Setahun yang lalu, saat ayah Upiak menikah lagi, Upiak dikembalikan kepada neneknya. Sebab, Nenek tetap teguh memegang prinsip matrilineal adat Minangkabau, di mana seorang anak menganut garis keturunan ibunya.
Sering kali Upiak merasa rindu kepada ayahnya, hingga berujung kesedihan. Sebab, setelah ayahnya memiliki keluarga baru dan hidup berkecukupan bersama keluarga barunya di kota, sang ayah sekali pun tidak pernah menjenguk putrinya itu.
Kini, Upiak harus pasrah menjalani hari-harinya di rumah panggung tua yang berdiri di tengah sawah dan ladang yang hijau. Dari jendela rumah terlihat Gunung Pasaman menjulang tinggi. Pohon-pohon besar tumbuh rindang di sekitar rumah, membuat udara terasa sejuk dan segar. Berbagai tanaman seperti kangkung, kacang panjang, ubi kayu, ubi jalar, hingga jagung tumbuh subur di pekarangan. Di dekat sawah juga terdapat kolam ikan nila yang menjadi sumber makanan mereka sehari-hari. Jadi, walaupun hidup sederhana, Upiak dan Nenek tidak pernah kekurangan makanan.
Nenek juga selalu mengajarkan hidup sederhana dan dekat dengan agama kepada cucu kesayangannya, di mana Adaik Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.
Setiap hari, Upiak membantu Nenek menggembala anak kambing di padang rumput. Kambing-kambing itulah yang kini menjadi teman bermainnya. Namun, di balik suasana kampung yang indah, hati Upiak masih dipenuhi rasa rindu kepada kedua orang tuanya. Saat duduk bersandar di bawah pohon besar sambil menikmati tumbang ubi buatan nenek, air matanya mulai jatuh tanpa ia sadari. Upiak rindu kepada ibunya yang ia panggil ‘Umak’.
“Upiak, Upiak, main wak lah!”
Upiak mendengar suara asing yang membuatnya terkejut. Di hadapannya berdiri seekor anak kerbau kecil bertanduk mungil dengan pita putih yang terikat manis di kedua tanduknya. Kerbau itu memperkenalkan dirinya sebagai si Itam Manih.
Awalnya Upiak merasa takut dan bingung karena kerbau itu dapat berbicara. Namun, si Itam Manih ternyata sangat ramah dan perhatian. Ia mengajak Upiak berkeliling ke seluruh wilayah di Rimbo Piatu. Di sana ada wilayah hutan rindang yang penuh dengan pohon-pohon tinggi dengan udara yang sejuk. Di dalam hutan itu, cahaya matahari menembus sela-sela dedaunan, membentuk garis-garis terang berwarna-warni seperti pelangi




Reviews
There are no reviews yet.